Senin, 30 April 2012


Anda bukanlah pikiran Anda
 
Seorang penakut suatu malam melewati area pekuburan. Banyak pikiran bekecamuk dalam dirinya, kumpulan informasi-informasi negatif tiba-tiba bermunculan dalam benaknya. Dunia mistis, cerita-cerita seram yang ia dengar dan keadaan sepi waktu itu seolah mendorong membentuk proyeksi mental yang mencekam. Dia pun lari sekuat-kuatnya, ingin menjauh dan keluar dari suasana yang menakutkan itu. Namun ia tak sadar bahwa malam berikutnya ia akan kembali melewati tempat itu.
Pada keadaan lain, seorang bijak sedang berusaha memecahkan suatu masalah. Duduk dengan tenang dan pikirannya tertuju pada apa yang semestinya ia lakukan. Kadang dia kelihatan fokus pada sumber yang dibacanya, namun bukan berarti tidak mengindahkan sekelilingnya. Sejenak diantaranya dia merespon dengan lembut pertanyaan putrinya yang lucu. Dia menjalaninya dengan kedamaian, rasa bahagia dan pengertian yang luas. Demikianlah hingga ia dapat menuntaskan sebagian kegiatannya itu.
Dua gambaran tersebut menceritakan dua sebab dan dua akibat yang berbeda. Pada cerita pertama seorang penakut yang tak mampu mengendalikan pikirannya sehingga terjebak dalam situasi yang dibuatnya sendiri. Pada kisah kedua seorang bijak yang telah mampu mengendalikan dirinya sehingga mampu memberikan tanggapan yang terbaik pada setiap situasi kehidupannya.
Para pembaca, mungkin kita pernah mengalami salah satu sebab atau keduanya dari kejadian tersebut yang hal itu tentu akan berpengaruh pada alur kehidupan kita. Jika kita mencoba menganalisis pola cerita tersebut dengan pola sebab-akibat : 


  1. Kisah si penakut
        Sebab :
A.      pikiran berkecamuk, informasi negatif (cerita seram dsb.) di masa lampau bermunculan tanpa diundang = tidak dapat mengendalikan pikirannya sendiri
B.      keadaan sekitar sepi = suasana kehidupan luar pribadi
Akibat : A. rasa ingin menjauh dan keluar = khawatir terhadap keadaannya .

Sehingga didapat : tidak dapat mengendalikan pikiran + suasana kehidupan di luar = menimbulkan rasa khawatir, gundah, tidak menentu, rasa sakit, penderitaan batin atau jenis ketidakbahagiaan yang sulit di-encoding melalui kata-kata.

Keadaan tersebut (khawatir, gundah, dan sejenisnya) mendorong si penakut untuk berlari. Dalam kondisi lain (di luar cerita) bentuk emosi negatif tersebut mampu mendesak/ menekan seseorang melakukan tindakan yang lebih ekstrim, seperti : konflik dengan orang lain(menyakiti,membunuh,dll), melakukan kegiatan yang dianggap cocok dengan situasi emosinya (meski bertentangan dengan nalurinya), menyakiti diri sendiri, atau bahkan bunuh diri!

Kemudian pertanyaannya, karena kita tidak menginginkan situasi tersebut, apa yang mesti kita usahakan?
Salah satunya, kita dapat belajar dari cerita kedua. 


2. Kisah orang bijak

        Sebab :
A.      pikiran tertuju = mampu mengendalikan pikiran sendiri
B.      menjalani dengan kedamaian, rasa bahagia = menjalani dengan perasaan tanpa konflik, merasa sama/satu dengan yang lainnya
C.      pengertian yang luas = memandang tidak hanya dari pemahaman pribadi, bersikap obyektif
Akibat : A. dapat memfokuskan diri tanpa tidak mengindahkan sekelilingnya = bersikap adil, mampu berbuat yang terbaik pada setiap situasi hidup.

Sehingga didapat : mampu mengendalikan pikiran + merasa satu dengan yang lain + bersikap obyektif = dapat mewujudkan pribadi yang adil dan mampu berbuat yang terbaik dalam setiap kehidupannya, rasa syukur, rasa bahagia, damai, cinta kasih.

Kondisi ini mendorong si bijak untuk memberikan reaksi positif dan selaras dengan nuraninya pada setiap situasi, salah satunya menjawab dengan lembut pertanyaan putrinya, walaupun dia sedang berusaha menyelesaikan masalahnya. Dengan demikian kita dapat memilih akibat apakah yang kita harapkan? Dan hal itu dapat dipengaruhi dengan sebab yang kita perbuat sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar