Selasa, 05 Juni 2012

ANDRAGOGI


Andragogi berasal dari bahasa Yunani  yaitu aner yang berarti orang dewasa, dan agogy / agogus yang berarti membimbing atau membina. mengarahkan orang dewasa, Agogi berarti ”aktivitas memimpin/membimbing” atau ”seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan.

Andragogi adalah suatu model proses pembelajaran peserta didik yang terdiri atas orang dewasa. Andragogi disebut juga sebagai teknologi pelibatan orang dewasa dalam pembelajaran. Proses pembelajaran dapat terjadi dengan baik apabila metode dan teknik pembelajaran melibatkan peserta didik. Keterlibatan diri (ego peserta didik) adalah kunci keberhasilan dalam pembelajaran orang dewasa, untuk itu pendidik hendaknya mampu membantu peserta didik untuk :
  • mendefinisikan kebutuhan belajarnya
  • merumuskan tujuan belajar
  •  ikut serta memikul tanggung jawab dalam perencanaan dan penyusunan pengalaman belajar
  • berpartisipasi dalam mengevaluasi proses dan hasil kegiatan belajar.
Dengan demikian setiap pendidik harus melibatkan peserta didik seoptimal mungkin dalam kegiatan pembelajaran.
 
Knowles (Sudjana, 2005: 62) mendefinisikan andragogi sebagai seni dan ilmu dalam membantu peserta didik (orang dewasa) untuk belajar (the science and arts of helping adults learn). Berbeda dengan pedagogi karena istilah ini dapat diartikan sebagai seni dan ilmu untuk mengajar anak-anak (pedagogy is the science and arts of teaching children).

Dugan Laird (Hendayat S., 2005: 135) mengatakan bahwa andragogi mempelajari bagaimana orang dewasa belajar. Laird yakin bahwa orang dewasa belajar dengan cara yang secara signifikan berbeda dengan cara-cara anak dalam memperoleh tingkah laku baru.

Orang dewasa tidak hanya dilihat dari segi biologis semata, tetapi juga dilihat dari segi sosial dan psikologis. Secara biologis, seseorang disebut dewasa apabila ia telah mampu melakukan reproduksi. Secara sosial, seseorang disebut dewasa apabila ia telah melakukan peran-peran sosial yang biasanya dibebankan kepada orang dewasa. Secara psikologis, seseorang dikatakan dewasa apabila telah memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan keputusan yang diambil.

Perlunya penerapan prinsip andragogi dalam pendekatan pembelajaran orang dewasa dikarenakan upaya membelajarkan orang dewasa berbeda dengan upaya membelajarkan anak. Membelajarkan anak (pedagogi) lebih banyak merupakan upaya mentransmisikan sejumlah pengalaman dan keterampilan dalam rangka mempersiapkan anak untuk menghadapi kehidupan di masa datang. Apa yang di transmisikan didasarkan pada pertimbangan warga belajar sendiri, apakah hal tersebut akan bermanfaat bagi warga belajar di masa datang. Sebaliknya, pembelajar-an orang dewasa (andragogi) lebih menekankan pada membimbing dan membantu orang dewasa untuk menemukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam rangka memecahkan, masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. Ketepatan pendekatan yang digunakan dalam penyelenggaraan suatu kegiatan pembelajaran tentu akan mempengaruhi hasil belajar warga belajar.

Asumsi-asumsi Paedagogi dan Andragogi, dan Implikasinya

Menurut Malcolm S. Knowles ada empat konsep dasar (asumsi) yang membedakan Paedagogi dan Andragogi yaitu :

 
Paedagogi
Andragogi
  1. Konsep diri
Anak ialah pribadi yang tergantung.


Hubungan pelajar dengan pengejara merupakan hubungan yang bersifat pengarahan.

  1. Pengalaman
Pengalaman pelajar sangat terbatas, karena itu dinilai kecil dalam proses pendidikan.

  1. Kesiapan belajar
Guru menentukan apa yang akan dipelajari, bagaimana dan kapan belajar.

  1. Orientasi Terhadap Belajar
Anak-anak cenderung mempunyai perspektif untuk menunda aplikasi apa yang ia pelajari (digunakan di masa yad.)

Pendekatannya ”berpusat kepada mata pelajaran” (Subject Centered)  


Si pelajar bukan pribadi yang tergantung, tapi pribadi yang telah masak secara psikologis.


Hubungan pelajar dengan pengajar merupakan hubungan saling membantu yang timbal balik.


 Pengalaman pelajar orang dewasa dinilai sebagai sumber belajar yang kaya.



Pelajar menentukan apa yang mereka perlu pelajari berdasarkan pada persepsi mereka sendiri terhadap tuntutan situasi sosial mereka.

Pelajar cenderung mempunyai perspektif untuk kecepatannya mengaplikasikan apa yang mereka pelajari.


Pendekatannya ”berpusat kepada masalah” (Problem Centered)



 
Sumber      :
Ø  Knowles, Malcolm. 1979. The Adult Learning (thirt Edition), Houston, Paris, London, Tokyo: Gulf Publishing Company
Ø  Sudjana, H.D. 2005. Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah Production

Tidak ada komentar:

Posting Komentar